Tinggal dan berbisnis di Jakarta, kalau dalam satu hari bisa bertemu 3-4 klien sehari yang mengharuskan bertemu face to face itu sudah hasil yang maksimal, itupun dijamin pulang sampai di rumah sudah dipastikan anak-anak sudah pulas tidur di peraduan. Ruas jalan yang macet merupakan salah satu kendala mengapa bertemu lebih banyak klien tidak lagi memungkinkan di Jakarta, “tua di jalan” begitu teman-teman menyebut. Tapi itulah Jakarta, walaupun jumlah uang beredar masih yang tertinggi di banding kota-kota lain, infrastruktur juga cukup memadai tetapi dengan beban kepadatan yang luar biasa, in-efisiensi disana-sini memang tidak bisa dihindari. Terus di kota mana lagi di Indonesia yang kans bisnis-nya masih mengangga lebar?
Untuk kedua kalinya, tahun ini Majalah Swa di edisi 17/XXVI/12-22 Agustus menulis sajian utamanya tentang “Indonesia Most Recommended Cities for Business” sebuah laporan yang meriset kota-kota di Indonesia yang “ramah” untuk berbisnis. Dengan proses penggarapan yang menyita 3 bulan, dengan 1800 responden pengusaha, laporan tentang kota yang pro investasi ini layak disimak. Dari 492 kabupaten/kota otonom yang disurvei, ada 20 kota yang layak direkomendasikan untuk berbisnis :
Read the rest of this entry »


