Blog Manuver Bisnis

ulasan kiprah bisnis untuk eksis dalam bisnis

Merubah Diri atau Dipaksa Berubah ?

Posted by Donny Oktavian Syah on 30/09/2010

Change is the law of life (John F.Kennedy)

Ketika saya masih di bangku SMA beberapa puluh tahun lalu di sebuah kota kecil di Jawa tengah, saya sering melewati kantor Pegandaian yang kala itu masih berstatus Perjan. Bangunan kantornya tua, suram, yang ada di kantor itu klien biasanya didominasi orang-orang yang sudah berumur dan “kepepet” kondisinya. Karyawan garda depannya pun rata-rata senior yang pelayanannya alon-alon asal kelakon. Walaupun kala itu saya tidak membaca laporan keuangannya, tetapi besar dugaan saya kondisinya setali tiga uang. Singkat kata, sama sekali tidak memikat.

Sekarang Anda jangan kaget kalo kantor Pegadaian sekarang membuka cabang dekat kantor kelurahan. Bahkan ada juga yang dibuka di sebuah Mal. Penampilannya pun lebih segar dan kinyis-kinyis, tidak lagi tinggal di gedung-gedung tua peninggalan belanda yang jadul itu. Dengan dominasi warna hijau segar, sekarang outlet Pegadaian agaknya sudah merambah kemana-mana. Dari pemaparan Chandra Purnama, Dirut Utama Pegadaian terungkap bahwa sejak tahun 1901 sampai 2007 akhir outlet-nya baru mencapai 1200 cabang. Akhir tahun 2008 outletnya meroket menjadi 2000 buah, artinya dalam kurun satu outlet bertambah 800 buah. Di dekat rumah yang kami tinggali saja sudah ada kantor cabang Pegadaian yang tegak berdiri. Sepertinya Pegadaian sudah berubah….menjemput bola mengakrabi konsumen.

Sedikit flashback ke belakang, perubahan besar Pegadaian tidak lepas dari “tangan dingin” pimpinan Pegadaian di tahun 1990-an dibawah Sjamsir Kadir yang mengusung kredo yang popular sampai saat ini “Mengatasi Masalah Tanpa Masalah”. Menyadari betul beragam kelemahan yang saya singgung di atas, perubahan besar pun digulirkan, walaupun sempat ada tantangan. Kala itu logo pun mengalami perubahan, struktur yang sangat sentralistik mulai direduksi, sistem gaji pun dibuat transparan. Intinya Sjamsir memberikan sebuah pilihan “merubah diri sendiri” atau “dipaksa berubah oleh situasi”. Dan sepertinya opsi “merubah diri sendiri” yang dikondisikan oleh Sjamsir diterima menjadi pilihan.

Penampilan lusuh itupun berubah menjadi segar penuh antusiasme. Dibawah kepemimpinan Sjamsir jumlah nasabah meroket mencapai 13 juta. Image selalu “ketinggalan kereta” berakhir sudah. Saat inipun sepertinya langkah perubahan tetap digenjot, dari data terakhir yang saya dapatkan dari majalah Swa, tahun 2009 tercatat 3297 outlet dengan omset kredit mencapai 48.359 triliun dengan jumlah nasabah 19.850387 orang. Sebuah transformasi perubahan diri yang layak untuk diapresiasi.

Banyak kasus perusahaan-perusahaan ketika mengusung perubahan, baru ketika merasa kepepet, biasanya perubahan semacam ini “menuntut” pengorbanan besar, karena kepepet maka proses perubahan diri untuk menyesuaikan perubahan dilakukan secara revolusioner. Terkadang yang tidak kuat bercumbu dengan perubahan akan patah dan tersingkir. Ini efek negatif yang terkadang tidak bisa dielakkan karena biasanya proses dipaksa berubah ada intervensi pihak ketiga.

Kalau perubahan dimulai karena kesadaran diri untuk merubah ketika signal-signal bisnis di sekitarnya mengalami perubahan, biasanya ekses-ekses yang ditimbulkan di perubahan yang dipaksa akan sedikit tereliminir. Tetap sih lahir rasa kekagokan, merasa aneh, merasa tidak nyaman ketika perubahan diri dilakukan…..kok seperti bukan biasanya…..tapi biasanya step-step yang harus dilewati tidak sedrastis kalau dipaksa berubah.

Ada 2 hal penting yang perlu diperhatikan seksama dalam organisasi bisnis kalau pilihan berubah dari sendiri akan dilakukan :

Pertama, pastikan pimpinan bisnis mempunyai rencana perubahan dan mempunyai komitmen sungguh-sungguh untuk melakukan serta mengawal perubahan itu. Jangan setengah-setengah. Hambatan yang muncul di titik ini, biasanya yang diajak untuk melakukan perubahan (pimpinan dan staff lainnya) merasa tidak perlu melakukan perubahan itu. “So far, kondisi kita ok mengapa harus melakukan perubahan seperti itu” kurang lebih suara-suara resistensi senada itulah yang bakalan mencuat dan hadir. Pada titik inilah, fungsi konsistensi Pimpinan terhadap tujuan menjadi penting seperti yang disinggung Rosalynn Carter “A leader takes people where they want to go. A great leader takes people where they don’t necessarily want to go but ought to be”.

Kedua, pastikan juga tim yang diajak berubah adalah tipe-tipe orang yang siap dan mau “belajar”. Di edisi kamis minggu lalu sempat saya singgung juga di blog ini (baca artikel Early Adopter dan Pebisnis Pembelajar). Karena perubahan diri sendiri itu menuntut proses pembelajaran. Tidak statis dan pro kondisi status quo. Karena kalau tidak, setiap ajakan perubahan yang notabene menuntut belajar hal –hal baru akan mengalami “penolakan halus” karena buat mereka yang bukan tipe pembelajar hal ini berarti melahirkan sebuah keribetan yang menuntut mereka harus belajar lagi.

Bagaimana dengan perusahaan adan kondisi di kantor Anda? Perubahan manakah yang akan dilakoni?

Credit photo : http://www.formasi-fib-ui.org

About these ads

2 Responses to “Merubah Diri atau Dipaksa Berubah ?”

  1. papayasmin said

    A leader takes people where they want to go. A great leader takes people where they don’t necessarily want to go but ought to be”. Kutipan yang bagus Mas Donny, kadang maju tidaknya sebuah institusi baik bisnis maupun sosial bahkan sebuah negara sangat dipengaruhi oleh satu orang yaitu pemimpinnya. Karakter Tim pun merupakan cerminan pemimpinnya. Seorang great leader akan membuat perusahaan yang hampir bangkrut menjadi sangat menguntungkan. Dari sebuah negara miskin menjadi negara maju dan makmur. BUMN yang biasa biasa saja menjadi luar biasa. Seorang CEO memang dituntut memiliki visi yang jelas akan dibawa kemana perusahaam yang dia pimpin. Sosok pemimpin seperti Sjamsir Kadir, yang mampu meletakkan visi dan membangun sdm yang mau terus mengembangkan Pegadaian menjadi perusahaan yang profesional dan profitable merupakan sosok sosok yang perlu terus diperbanyak jumlahnya di negara kita..
    Bagaimana pendapat Mas Donny?

    • @Papayasmin : Problem lain yang menghadang pimpinan ketika ingin menggulirkan “perubahan” adalah takut mempunyai policy yang “tidak populer” padahal ibarat obat yang pahit kadangkala tetap diperlukan untuk menyembuhkan sakit. Jadi sang pimpinan tidak berani untuk tidak populer biasanya langkah “penyembuhan” yang diambil membutuhkan waktu lebih lama. Terima kasih berkenan mampir :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 122 other followers

%d bloggers like this: