Blog Manuver Bisnis

ulasan kiprah bisnis untuk eksis dalam bisnis

Berpikir dan Berperilaku Efektif

Posted by Donny Oktavian Syah on 27/04/2013

nine dot2Suatu saat saya jalan satu mobil dengan seorang kolega yang cukup sering diundang dan menjadi pembicara di perusahan-perusahan. Sembari “menikmati” macetnya Sudirman siang itu, kebetulan teman saya disamping berlatar belakang bisnis dia juga punya basis filsafat yang kental, melempar sebuah perbincangan yang cukup menggelitik. “Suatu saat ketika kita didera kekurangan ketika saya masih kecil, Ibu saya pernah disambangi salah seorang keluarga kami, ketika itu Ibu disalami oleh saudara itu dan diselipi amplop uang yang lumayan”, kata Kolega saya membuka pembicaraan. “Yang saya heran isak tangis Ibu saya lebih keras setelah diberi amplop tadi.”

Isak tangis Sang Ibunda yang mengeras tadi, menyebabkan Kolega saya tadi bertanya,” kenapa harus menangis, kan diberi rezeki, harusnya kita bersyukur?”. Ibunya menjawab dengan sesenggukan”, Aku menangis bukan karena saya tidak mau bersyukur, tetapi menyesali mengapa kenapa posisi kita yang diberi amplop uang? Bukan kita yang menjadi pemberi amplop uang?” Jawaban tegas Ibundanya di masa itu terngiang dan terekam kuat di pikiran kolega saya sampai saat ini.

Jawaban Ibunda kolega saya di mobil tadi mengingatkan saya tentang salah satu peran penting elemen untuk berpikir efektif yakni perlunya melihat permasalahan dengan pemikiran mendalam. Tidak sekedar “menerima”  yang ada serta mengamininya tanpa berpikir panjang. Memahami “ide dasar” serta membuang bunga-bunga tetek bengek yang tidak penting merupakan isu utama. Sepenggal obrolan di atas menggambarkan betapa memposisikan sebagai “tangan di atas” itu merupakan hal penting bukan karena sok-sokan ingin dianggap orang dermawan dan berjiwa welas asih. Namun lebih dari itu, keinginan untuk menjadi “pemberi” mengisyaratkan mentalitas yang anti dikasihi dan bermental diri untuk “kaya”. “Keluarga saya dulu tidak kaya-kaya amat, tapi saya dididik berperilaku “kaya” oleh keluarga kami”, kata Kolega saya.

Jawaban tadi mengisyaratkan bahwa berpikir dengan pemikiran yang mendalam telah dicontohkan oleh Ibundanya tadi. Oleh karenanya, belajar membuang bunga-bunga tetek bengek yang melingkupi suatu masalah dan benar-benar mencari tahu apa-apa yang menjadi esensi yang benar-benar penting memang perlu dicangkokkan sejak dini ketika kita ingin berhasil menerapkan pola pikir efektif dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian yang mendalam merupakan fondasi untuk sukses. Dalam hal apapun yang kita lakukan, usahakan perdalam keahlian dan pengetahuan kita dengan dengan konsep fundamental.

Kegagalan berpikir dengan konsep fundamental akan membawa Anda dalam kondisi dalam alur pikiran yang datar-datar saja, atau sering disebut berpikir vertikal semata. Gagap untuk bertanya lebih lanjut dengan pertanyaan-pertanyaan efektif nan lebih fundamental. Padahal menghadirkan pertanyaan-pertanyaan efektif ini akan membuka pikiran ke arah insight dan solusi baru. Pertanyaan yang efektif akan membongkar asumsi-asumsi yang tersembunyi. Dalam konteks bisnis, membangun pola pikir yang fundamental dengan membiasakan mempertanyakan sesuatu itu adalah hal penting.

Ebay, salah satu situs lelang terkemuka di dunia, lahir karena Pierre Omidyar “rajin” memikirkan serta mempertanyakan efektivitas lelang dan cara kerjanya. Dia rajin mengulik lebih lanjut dan mencari tahu bagaimana kalau peserta lelang yang diraup lebih bisa mengajak orang lebih banyak.  Setelah rajin bertanya hal-hal yang fundamental, maka lahirlah situs lelang di internet yang dikerumuni jutaan orang. Salah cara berpikir fundamental adalah dengan mengeksplorasi lebih lanjut dan mendalam perihal sesuatu dengan pandangan kritis. Pertanyakan suatu fenomena dengan sederetan pertanyaan seperti: “Apa selanjutnya ?”, “Kalau begitu, bagaimana selanjutnya?”,  ataupun “Apa yang harus dilakukan lagi sekarang?”

Kalau kita menjadikan cara berpikir fundamental ini sebagai sebuah kebiasaan, maka kapasitas dan kekuatan mental menjadi pemikir yang efektif dan kreatif terbuka lebar. Meminjam kata-kata filsuf Rene Descartes, “Cogito ergo sum”…..saya berpikir, maka saya ada (eksis).

Tanggal 27 April 2013, Blog Manuver Bisnis berumur 4 Tahun, tidak terasa sudah 4 tahun berjalan. Semoga Blog ini tetap bisa berbagi dengan para pembacanya. Happy Birthday Blog Manuver Bisnis :)

Posted in Business Wisdom | Leave a Comment »

Revolusi Konsumen Kelas Menengah Indonesia

Posted by Donny Oktavian Syah on 02/03/2013

Consumer 3000Beberapa hari lalu, seorang kawan yang dulu saya kenal sejak masa kuliah di Jogja dulu, mengundang saya untuk menghadiri acara yang digagasnya bersama Majalah SWA yang bertajuk “Indonesia Middle-Class Consumer Report 2013” yang diadakan di sebuah hotel di bilangan Kuningan. Sudah lama saya tidak bersua face-to-face dengannya. Hanya sesekali berbalas sms ber-say hello. Lembaga riset yang baru didirikannya bernama CMCS ( Center for Middle-Class Consumer Studies) yang memfokuskan untuk mengulak-mengulik “perilaku kelas menengah Indonesia” yang diyakini bakalan membesar kedepannya.

Teman saya Yuswohady memang bukan teman saya dulu yang gemar berdiskusi dan berwacana seperti masa mahasiswa dulu. Sekarang bak seorang Begawan Pemasaran, setiap kata-katanya disimak dengan tekun dan penuh perhatian oleh para hadirin yang rata-rata merupakan para marketer yang menjadi motor penggerak dari perusahaan-perusahaan masing-masing. Ya, Siwo-itulah panggilan akrabnya—memang bukan lagi mahasiswa berbaju lusuh yang saya kenal dulu. Dengan aksennya jogjanya yang masih medok, ceplosan analisisnya masih terasa lugas dan kritis dan banyak diamini orang.

Kalau Anda menyempatkan membaca bukunya teranyar yang bertajuk  Consumer 3000:  Revolusi Konsumen Kelas Menengah Indonesia, ada aksen-aksen jernih yang mengingatkan para marketer khususnya bahwa ada perubahan perilaku kelas menengah Indonesia yang perlu dicermati agar ranumnya kue yang digenggam kelas menegah kita tidak bergeser ke competitor.

Konsumen Kelas Menengah Indonesia yang pengeluarannya ada di range US$ 2-20 per hari (walaupun kebanyakan kelas menengah Indonesia porsi terbesar masih ada di di kisaran US$ 2-4 per hari, belum sampai di range US$ 6-8 per hari) tetapi geliat dampaknya sudah luar biasa. Ramainya bandara, banyaknya jumlah mobil dan motor terjual, klinik kesehatan dan serta kecantikan yang semakin disesaki merupakan salah fenomena adanya “consumer shift” di kalangan kelas menengah Indonesia.

Teman saya Siwo punya analisa menarik tentang berubahnya perilaku Consumen Indonesia. Setidaknya ada 3 signal adanya perubahan tersebut:

Pertama, Hypervalue-oriented consumer. Para konsumen kelas menengah Indonesia, walaupun daya belinya meningkat, sesungguhnya belumlah “sekuat” kelas menengah yang ada di  Eropa, Jepang atau Amerika. Jadi mereka dijangkiti ingin membeli barang-barang “berkualitas bagus” walupun duitnya tidak banyak-banyak amat. Fenomena ini menjawab bagaimana banyak barang yang “dipersepsikan” mempunyai keunggulan kualitas ketika discount sedikit saja, mendadak sontak para pembelinya mengular dan rela mengantri. Jadi bagi para marketer yang mempunyai “barang” atau “jasa” yang dipersepsikan bagus, tidak ada salahnya sekali-kali mendesain program “discount” untuk hal tersebut untuk menarik konsumen.

Kedua, Mereka mencari Merek yang tidak sekedar “memuaskan” dirinya tetapi juga merek yang mampu “membangun” ikatan batin (emotional connection) dengan konsumen dengan bentuk kepercayaan (trust), kebanggan (pride), kegairahan (passion). Makanya ada sebuah iklan minuman yang selalu meneriakkan kegairahan dalam beraktivitas ini karena ingin produknya “terkoneksi” dengan konsumen. Atau sebuah produk jamu yang dulunya dikenal menyasar konsumen kelas bawah, mencoba “naik kelas” menyasar merek kelas menengah dengan slogannya “orang pintar minum….”, ini menunjukkan betapa merek tersebut ingin membangun “kebanggan”,

Ketiga, Mereka adalah komunitas ter-connected. Artinya walaupun uangnya gak banyak-banyak amat, konsumen kelas menengah sangatlah “well-informed”. Mereka punya jaringan dengan media sosial  yang teramat kental.  Contoh paling sering dilihat, mereka rajin mengecek lewat internet tentang barang yang hendak mereka beli. Sebelum mereka memutuskan untuk membeli, serangkain “survey”, menguping perbincangan merek di sosial media, minta pendapat teman, relasi dekat sebelum membeli (word of mouth marketing). Jadi merangkul mereka lewat jalur-jalur sosial media adalah salah satu jalan untuk merangkul dan memahami konsumen yang hendak disasar.

Bagaimana dengan konsumen Anda? Apakah juga mengalami perubahan seperti di atas?

Credit Photo: www.yuswohady.com

Posted in Business Strategy | 40 Comments »

Diatur Waktu atau Mengatur Waktu ?

Posted by Donny Oktavian Syah on 16/02/2013

rubber time“Seringkali, karyawan yang kita punyai, ketika membuat skala kerja yang dilakukan, yang dikerjakan dimulai dengan pekerjaan “yang disukai” terlebih dahulu bukan “pekerjaan yang urgen” untuk dikerjakan terlebih dahulu,” papar seorang manajer di sebuah klien yang kita sambangi di bilangan Sudirman, Jakarta. “Alhasil, ketika mendekati deadline pekerjaan, seakan pekerjaan menumpuk yang urgen tetapi barangkali “kurang disukai” tadi menjadi mengejar-ngejar dia”, sambungnya. “Jadi mereka banyak yang “merasa” menjadi Mr. dan Ms.Sibuk.”

Sepenggal obrolan diatas barangkali terjadi juga di keseharian kita manakala kita bekerja di kantor. Mendadak suatu hari terasa waktu mengejar-ngejar kita.  jadi terasa hetic, terkadang under-pressure, bahkan yang gak tidak kuat menahan tekanan tersebut jadi uring-uringan dan menjadi sensitive. Itu adalah implikasi kita kita diatur oleh waktu ketimbang mengatur waktu kita. Pada titik ini. Sangatlah perlu mengatur waktu kita atau Time Management, agar apa yang kita rencanakan bisa tercapai.

Menurut Gordon McDonald dalam bukunya Ordering Your Private World, setidaknya ada 3 efek akibat kita gagal mengontrol waktu:

  • kita akan “dikendalikan” orang lain karena kita tidak mempunyai agenda yang jelas.  Seringkali kita ikut diajak kesana-kesini, sehingga agendanya sendiri yang seharusnya menjadi prioritas diri menjadi sedikit terbengkalai. Pernah mengalami selalu mengamini diajak kesana-kemari oleh seorang kawan di kantor, tahu-tahu baru menyadari target pekerjaan yang dibebankan kepada kita ternyata belum kelar?
  • Selalu dikejar- kejar  hal  yang mendesak. Sehingga kelihatan “sibuk”, padahal hal ini diakibatkan karena kesalahan sendiri melakukan skala prioritas. Contoh kasusnya sama seperti yang dialami oleh anak buah dari klien yang kami tangani yang dipaparkan di atas.
  • Akhirnya meraka hanya mengerjakan hal-hal yang tidak bermanfaat saat di waktu produktif di kantor. Misalnya mengecek email-email gak penting, ngobrol dengan teman berlama-lama, malah sibuk mempelototi status kawan di sosial media. Makanya ada di sebuah kantor, laman sosial media ternama diblokir mulai pukul  8 pagi sampai jam 3 sore, baru setelah itu baru bisa dibuka. Tetapi itupun saya menyangsikan keefektifannya, mengingat sosial media sekarang bisa diakses lewat handphone. Ini masalahnya pada mind-set pikiran dalam memainkan waktu, kesalahan bukan ada di tools tapi ada pada pribadi yang menggunakan tools itu.

Jadi bagaimana dong agar kita tidak “diatur waktu” tetapi bisa “mengatur waktu” untuk hidup ynag lebih efisien dan produktif? Ada beberapa hal yang bisa ditempuh :

Pertama, temukan prioritas hidup Anda yang mengakibatkan hasil yang berlipat. Kalau meminjam hukum Pareto,”Carilah 20% prioritas hidup Anda yang menghasilkan hasil sebesar 80%”.  Vilfredo Pareto (1848-1923) penemu hukum Pareto ini berasal dari Itali ini melakukan studi di Italia menemukan fakta bahwa ada 20% orang Italia yang berhasil “menguasai” 80% kekayaan Itali. Hukum ini dalam keseharian manajemen sehari-hari telah dilakukan oleh Bank-Bank yang menghadirkan service untuk nasabah utama (prioritas) yang mempunyai tabungan banyak di bank, yang gak perlu antri di depan karena dilayani “counter khusus”. Jadi temukan fokus tindakan dalam hidup Anda yang paling banyak memberikan efek terbanyak di dalam hidup Anda. Teorinya sederhana, tapi banyak ditemui di lapangan “gagal” melihat hal tersebut dalam hidup.

Kedua, disiplin melakukan skala prioritas dalam hidup dan menyadari tidak semua hal penting dalam hidup itu adalah hal yang kita sukai. Menjadi displin di sini berarti mengerjakan apa yang seharusnya kita kerjakan,bukan sekedar mengerjakan apa yang ingin kita kerjakan. Kalau meminjam term Stephen Covey, penulis buku Seven Habit of Highly Effective People, kalau belum terbiasa melakukan pendisiplinan diri, gal yang paling gampang melakukan matriks kegiatan keseharian kita dalam empat kuadran, yakni memilahnya menjadi 4 kuadran. Pertama, aktivitas Penting tapi tidak Genting. Kedua, aktivitas Penting dan Genting. Ketiga, aktivitas Tidak Penting Tapi Genting. Keempat, aktivitas Tidak Penting dan Tidak Genting.

Prinsipnya sederhana, pastikan jangan sampai aktivitas tidak penting dan tidak genting menyeruak menjadi pekerjaan yang dikerjakan terlebih dahulu walaupun itu menyenangkan buat Anda. Tetapi pastikan aktivitas Penting dan Genting menjadi prioritas untuk dikerjakan terlebih dahulu meskipun bukan hal yang menyenangkan hati untuk dikerjakan. Dan akhirnya…..selamat “mengatur waktu” Anda…

Credit Photo : beingpatty.blogspot.com

 

Posted in Business Wisdom | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 121 other followers