Posted by Donny Oktavian Syah on 04/02/2010
“Lagi sibuk renovasi kantor nih Mas, sambil buka lowongan untuk 2 orang biar terlihat seperti kantor beneran”, jelas seorang kawan via telepon ketika saya menayakan apa kegiatannya sekarang. Teman saya ini, sebut saja Mas Indra, baru saja berpindah kuadran. Kebetulan jabatan terakhirnya di kantor adalah seorang manager yang membawahi beberapa orang staf. Saya perlu mengacungkan jempol “salut” dan angkat topi atas keberaniannya berpindah kuadaran setelah usianya tidak muda lagi serta sudah berada di comfort zone sebagai karyawan (pada posisi manager) dalam rentang waktu yang cukup lama.
“Apa tidak sebaiknya renovasi kantornya ditunda dulu Mas, kan kondisi bangunannya masih lumayan bagus, dan juga tipe bisnis yang digeluti kayaknya kan jarang klien berkunjung langsung”, tanya saya ingin tahu. “Iya sih, tapi ben kethok koyo kantor tenanan ngono lho Mas”, jelasnya dalam bahasa Jawa dengan nada sumringah. Artinya kurang lebih dalam bahasa Indonesia “agar kelihatan seperti kantor beneran gitu lho Mas” . “Cuma direnovasi kayak gitu saja, biayanya gedhe juga lho Mas”, paparnya lebih lanjut. “Wah, lumayan juga tuh biayanya kalo dikonversi menjadi modal kerja”, jawab saya menimpali. “Iya sih, tapi…..”, jawabnya sambil tidak meneruskan jawabannya. Padahal kantor yang direnovasi sebelumnya juga baru saja dibeli dengan uang cash, dari uang tabungan dan uang pensiun dininya. Read the rest of this entry »
Posted in Entrepreneur Spirit | 4 Comments »
Posted by Donny Oktavian Syah on 28/01/2010

“Misi seorang entrepreneur adalah mengentaskan kemiskinan, menyelamatkan masyarakat secara keseluruhan dari akibat-akibat kemiskinan, serta mengusahakan kesejahteraan umum. Para entrepreneur juga harus mampu berbagi rasa dalam menciptakan masyarakat yang kaya secara spiritual dan berkecukupan secara material “ (Konosuke Matsushita, pendiri Matsuhita Elektrik)
Berita tentang seminar Daya Tawar Pemuda dalam Dunia Kerja : Menghubungkan Pendidikan, Ketenagakerjaan, dan Kewirausahawan sempat diberitakan di Kompas 21 Januari 2010 dalam sebuah kolom kecil. Dari seminar didapat berita yang “tidak terlampau mengejutkan” bahwa berdasarkan survei angkatan kerja nasional (Sakernas) tahun 2009, mayoritas lulusan perguruan tinggi (74%) dan lulusan Sekolah Menengah Atas (64%) memutuskan menjadi karyawan, pegawai atau buruh. Hasil ini menunjukkan bahwa lulusan terdidik –terutama lulusan perguruan tinggi—rela mengganggur hanya untuk menunggu kesempatan menjadi karyawan dan pegawai apapun ketimbang mencoba terjun ke dunia usaha menjadi entrepreneur atau wirausaha (lebih lanjut baca Penggangguran Terdidik, Cak Eko dan Wirausaha di blog ini). Bahkan ada yang rela mengganggur hampir satu tahun untuk ikut tes masuk kerja ketimbang menjajal dunia usaha.
Salah satu saham penyebab mengapa para lulusan tadi “bersikap kukuh” untuk ngganggur ketimbang meretas dunia usaha adalah disumbang dari pola pengajaran terutama di perguruan tinggi yang lebih mendesain mahasiswa untuk “siap bekerja” ketimbang “membuka lapangan kerja”. Coba kita ambil contoh, cermati silabus rata-rata fakultas ekonomi yang ada di Negara kita (hampir semua universitas, dipastikan rata-rata mempunyai fakultas ekonomi dan bisnis), keahlian yang ditawarkan lebih untuk “membekali” lulusannya untuk bekerja di perusahaan bukan menitik beratkan keahlian untuk “membangun” imperium bisnis sendiri. Mata kuliah di Manajemen Keuangan, Manajemen Pemasaran yang diajarkan mengasumsikan seakan-akan kita dipersiapkan untuk masuk sebuah perusahaan yang infrastrukturnya mapan dan di dalammya kita tinggal mengaplikasikan SOP (Standard Operational Procedure) yang diterapkan. Pelajaran yang menitikberatkan bagaimana mulai membangun usaha dari infrakstruktur yang minim, mencari celah kesempatan, membangun tradisi mandiri ulet nan tahan banting dapat dipastikan kurikulumnya minim dan jarang dibahas. Read the rest of this entry »
Posted in Business Wisdom | 12 Comments »
Posted by Donny Oktavian Syah on 21/01/2010

Beberapa hari lalu saya membaca artikel menarik di The Japan Times yang mengisahkan tentang seorang CEO perusahaan furniture Manone Inc. yang bernama Keisuke Tanaka. Dia menceritakan di sakunya selalu ada dua meishi (kartu nama). Lho untuk apa? Kartu nama yang satu posisinya sebagai President Director Manone, yang satunya masih tetap memakai namanya, tetapi jabatannya sebagai salesman, atau di Jepang dikenal dan sering dilafalkan sebagai “sarari-man” (dari serapan bahasa Inggris, salary man), karena dalam lidah Jepang, aksara “l” acapkali dibaca “r”. Saya tersenyum simpul, ”Jepang banget”, pikir saya.
Di Jepang, profesi sebagai sarari-man merupakan profesi jamak dijumpai. Biasanya mereka bisa dikenali dengan dress-code yang sangat khas, stelan kemeja putih dengan jas dan celana hitam. Tugasnya sekilas gampang, keluyuran dan bertandang untuk bertemu langsung ke konsumen atau pelanggan secara langsung, baik per individu maupun tingkat korporat. Tapi sungguh, suatu pekerjaan yang menuntut kerja keras dan komunikasi yang prima. Karena tugasnya sesungguhnya tidak sekedar menggelembungkan raihan omset penjualan semata, para sarari-man juga didapuk untuk “memahami keinginan sesungguhnya” dari pelanggan atau calon pelanggan. Tak ayal lagi, untuk merengkuh tujuan kerja, sampai larut malam dan pulang “subuh” terkadang dilakoni dan dipandang hal “lumrah” dalam kultur masyarakat Jepang. Terkadang, agenda “ramah tamah” dengan para pelanggan terkadang digelar di restoran, café, resto yang biasanya dilakukan after office hour. Tak heran, banyak restoran, café dan resto di Jepang yang buka hingga larut malam untuk mengakomodir para sarari-man, terutama di kota-kota besar di Jepang. Banyak restoran disana yang “dihidupi” oleh para sarari-man tadi.
Read the rest of this entry »
Posted in Asian Business Ways | 8 Comments »