Beberapa saat lalu, seorang kawan, sebut saja Pak Adi, yang mengepalai HR Departemen sebuah perusahaan, ketika kita berbincang-bincang bersama sempat curhat pusing tujuh keliling. Betapa tidak karyawan terbaiknya, satu persatu mengajukan “surat cinta” untuk pamit berkarier di perusahaan lain. Kalau cuman 1-2 karyawan yang hekang, untuk perusahaan sekelas Pak Adi barangkali tidak akan “menggoyahkan” sistem kerja dan kinerja perusahaan, ternyata bulan berikutnya ada lebih banyak karyawan ijin berpamit ria. Saya bisa paham kondisi itu akan terus runyam kalau tidak dicari solusinya.
Ketika Pak Adi bertutur turn over karyawannya melonjak di atas 10 % saja sudah cukup membuat beliau mengusap-ngusap kepala. Parahnya, ada kasus lain di sebuah perusahaan yang lain kasusnya lebih “dahsyat” daripada yang dialami Pak Adi, satu departemen berisi puluhan orang karyawannya hekang dibajak perusahaan sejenis yang kebetulan sedang memulai bisnisnya dan akan berekspansi. Saya sering menyebutnya fenomena Membajak ala “bedol desa”, artinya “lurah” di departemen itu dibajak beserta seluruh stafnya. Ini yang merepotkan. Saya bisa membayangnya riuh rendahnya kondisi tersebut, tiba-tiba satu departemen mendadak “pindah kantor”, celakanya pindahnya ke perusahaan competitor. Komplit sudah muram yang menggelayuti!
Read the rest of this entry »


