Blog Manuver Bisnis

ulasan kiprah bisnis untuk eksis dalam bisnis

Muslim Tourist & Halal Food

Posted by Donny Oktavian Syah on 17/01/2014

GambarBeberapa saat lalu, koran The Japan Times mewawancarai seorang turis dari Malaysia yang berkunjung ke Jepang selama kurang lebih satu minggu. Dilaporkan sang turis tersebut mengobrol bahwa dia membawa segepok mie instan. Alasannya jelas, ketidaktahuan tentang kuliner mana yang bisa dikonsumsi selama berdarmawisata di Tokyo dan Kyoto yang dikunjungi. Cerita ini dirilis di tengah data statistik turis dari Asia Tenggara yang merangkak naik. Di Kyoto misalnya tercatat 845.000 turis menyambangi bekas ibukota Jepang di masa lampau ini, 13.000 disumbang turis dari Malaysia dan Indonesia di tahun 2012. Padahal tahun sebelumnya hanya 8000 orang saja, naik sekitar 61%, diperkirakan semakin meningkat.

Ini yang menyebabkan pemerintah Jepang saat ini mulai melirik meroketnya turis Asis Tenggara, cerita tentang turis Malaysia yang membawa segepok mie instan ke Jepang tentunya cukup “mengganggu” di tengah giat-giatnya pemerintah Jepang mulai menarik turis-turis dari Asia Tenggara ini. Bukan Jepang kalau tidak “responsif” mengendus peluang. Sederetan langkah secara komprehensif pun dibangun, diantaranya membikin grup yang lebih Muslim-friendly. Diantaranya menjadikan Kyoto Muslim Association sebagai advisor untuk “perpanjangan” informasi dimana saja makanan halal bisa dibeli. Bahkan beberapa hotel seperti Hotel Granvia dan Kyoto Century Hotel sudah menyediakan pilihan makanan halal. Disisi lain informasi online pun dilakukan, website yang menyediakan halal list dan Muslim-friendly pun dibangun di Kyoto.

Di dunia akademis, di tengah merangkaknya jumlah mahasiswa Indonesia dan Malaysia, mulai banyak cafetaria di dalam kampus yang menyediakan makanan halal , diantaranya Universitas Nagoya di Aichi-ken, International University of Japan di Niigata-ken. Kalau pernah menjadi mahasiswa 10-15 tahun lalu barangkali adalah hal yang sulit untuk mendapatkan serta mengkonsumsi makanan halal di cafetaria kampus. Pilihan pun terbatas hanya bisa makan sea food semata, selain itu harus mau berepot-repot ria memasak sendiri. Belum lagi toko yang menjajakan bahan makanan halal terbatas di tempat-tempat tertentu. Sekarang beberapa departemen store biasa pun mulai menyediakan makanan halal.

Dari sisi tempat peribadatan juga mengalami perubahan. Di airport Kansai, Osaka dan kampus-kampus sudah mudah ditemui beberapa masjid untuk melakukan ibadat. Sederetan policy yang mencoba membikin para turis dan pelajar muslim menjadi “nyaman” untuk tinggal di negeri matahari terbit didasarkan dari beberapa faktor:

Pertama, di tengah ekonomi Jepang yang tidak sekinclong beberapa dekade lalu terutama di sektor manufactur dimana mereka selalu leading, kini mereka menoleh ke sektor services, dan yang digarap adalah turis dan hotel services mulai digarap secara serius. Meroketnya turis yang datang dari Asia Tenggara mulai digarap secara serius. Mencomot data dari Japan National Tourism yang dirilis lewat koran Asahi Shimbun, sebuah koran dengan oplah terbesar di Jepang, dari 6,21 juta turis yang masuk Jepang tahun 2011, 80 ribu dari Malaysia dan 60 ribu dari Indonesia. Sebuah busines opportunity yang pantang untuk diabaikan. Maka kalau makanan halal mulai dibidik adalah “gurihnya” uang yang dikail dari sektor ini. Tentunya cukup mengganggu para turis yang datang di Jepang berbondong-bondong membawa makanan halal sendiri seperti salah satu turis yang membawa mie instan di tengah beragamnya mie instan yang ada di Jepang.

Kedua, turis dari negara lain yang biasa membanjiri wisata Jepang, seperti wisatawan China mulai mulai berkurang secara drastis. Apalagi ditambah hubungan Jepang-China yang “kurang harmonis” baru-baru ini karena beragam masalah, seperti masalah “rebutan” kepulauan Senkaku. Tak heran wisatawan Indonesia dan Malaysia mulai dilirik, dibidik dan mulai diservis dan diperhatikan kebutuhannya.

Dari segi bisnis, peluang apa yang bisa dibidik? Tidak banyak orang Jepang yang memahami konsep makanan halal ini. Masih banyak orang Jepang berpikir kalau makanan Halal itu yang penting tidak ada babi-nya (no pork). Padahal makanan sapi dan ayam tidak akan disentuh konsumen Muslim kalau cara menyembelihnya bukan secara Islam (slaughter by islamic rites) atau ketika memasaknya dibubuhi 醤油 (shouyu), arak Jepang yang biasa dilakukan dalam kuliner di Jepang.  Tentunya menarik misalnya membikin ラーメん (ramen), sebuah kuliner Jepang yang terkenaL, yakni mie rebus Jepang yang dibubuhi daging babi, misalnya dagingnya diganti daging sapi atau ayam yang disembelih secara syariah. Tentunya banyak yang mencoba, karena ramen yang disediakan dalam untuk pembeli vegeterian saja ramai dibeli orang di Tokyo, apalagi kalau yang halal. Pasti banyak yang mau menjajalnya.

Selama ini penjual makanan halal di Jepang masih didominasi penjual dari Asia Selatan, Bangladesh, Pakistan, dan India. Sedangkan pembelinya kebanyakan dari Indonesia. Haruskah kita selalu jadi pembeli semata ??? Sebuah pertanyaan yang sedikit mengganggu ya…..berani memanfaatkan momentum ini dan mencobanya jadi penjual ramen halal misalnya?

Selamat mencoba!!

Credit Photo : ronaldieya.blogspot.jp/

Advertisements

Posted in Business Strategy | 2 Comments »

Japanese Customer Behavior: Kibishi!

Posted by Donny Oktavian Syah on 11/01/2014

Maneki NekoBanyak orang “terpesona” ketika bertandang ke negeri matahari terbit, dan melakukan shopping di sana. Tingkat kesopanan serta service yang diberikan ketika kita berbelanja bisa dikatakan mereka ada di atas rata-rata. Tetapi pernahkah Anda memikirkan dengan kacamata sebaliknya, misalnya Anda sebagai penjual dan orang Jepang sebagai customer (pembeli). Pernahkah Anda membayangkannya ?

Bagi yang pernah bekerja atau pernah pengalaman bekerja part-time (arubaito) di perusahaan Jepang barangkali sedikit banyak akan paham bagaimana “complicated”-nya berurusan dengan “saudara tua” kita ini. Ini beberapa ekspektasi yang oleh orang atau perusahaan Jepang kalau kita membangun bisnis dengan mereka dari pengamatan yang ada:

Pertama, 厳しい (kibishi) alias sangat demanding. Untuk urusan satu, Anda harus punya daya tahan kesabaran extra dan rajin mengkonfirmasi permintaan dari mereka secara detail. Kalau tidak, Anda akan merasa “lelah sendiri”. Pernah saya membaca sebuah artikel yang membincangkan kecenderungan orang Jepang saat ketika membeli sayur-sayuran dan buah-buahan. Konsumen Jepang tidak hanya menuntut agar buah dan sayur itu punya rasa “enak” semata, akan tetapi dari segi penampilan haruslah tetap cantik dan menawan. Sebagai contoh buah timun, konsumen Jepang hanya akan memilih ketimun yang masih segar dan posturnya lurus, agak bengkok sedikit bentuk timunnya sudah banyak orang yang tidak mau beli. Apel juga tidak sekedar enak rasanya, tetapi secara penampilan harus kelihatan bulat segar dan merah. Untuk itu para konsumen siap membeli dengan harga yang tidak murah untuk high quality demand ini.

Kedua, long term commitment. Rata-rata konsumen Jepang mencari partner atau suppliers yang mau diajak kerjasama jangka panjang. Bukan short term commitment. Kalau Anda ditawari memasok sebuah perusahaan Jepang, jangan kaget kalau prosesnya lama dan panjang, kesannya seperti mengetes kesabaran. Pada titik ini, kalau ingin berhubungan panjang, jangan mudah “emosi” ketika menjumpai step-step yang melelahkan dan menguras energi. Tetapi sekali mendapat “kepercayaan” biasanya Anda akan menjadi patner seumur hidup. Saya pernah ketemu sebuah perushaan yang direkturnya sudah merupakan generasi ketiga yang punya list client lama yang didapat dari jaman kakek dan bapaknya.

Ketiga, mempunyai kontak person yang tetap (assigned contact person). Orang Jepang sangat menyukai kontak orang yang jadi penghubung tetap (担当者atau tantosha). Hal dilakukan untuk melakukan koordinasi dan konsistensi. Dan tidak kalah penting, hal ini penting untuk menghindari konflik pesan dari departemen yang berbeda. Jadi kalau memungkinkan jangan mudah mengganti ganti orang yang menjadi assigned person tadi. Saya sering melihat di beberapa perusahaan yang sudah berhubungan lama, tidak jarang ditempatkan orang dari pihak customer ditaruh di perusahaan supplier untuk memastikan jalur komunikasi dan koordinasi lancar. Jadi setiap hari dia ngantor di kantor supplier laiknya pegawai perusahaan tersebut.

Masih ada beberapa tipikal lain yang ada, tetapi tiga hal di atas merupakan tipikal customer Japanese yang sering ditemui. Apalagi ditengah investasi Jepang yang booming baru-baru ini ke Indonesia, meminjam survey data Bank Kerjasama Internasional Jepang (JBIC) menunjukkan untuk pertama kalinya sejak 21 tahun lalu posisi China disalip oleh Indonesia dalam hal investasi Jepang ke luar negeri. Apakah hal ini disebabkan karena hubungan Jepang dan China yang kurang harmonis berkenaan dengan pulau Senkaku. Akan tetapi data menunjukkan signal akan semakin derasnya perusahaan Jepang yang menyambangi Indonesia karena urusan bisnis. Hubungan dan relasi dengan orang Jepang diperkirakan akan meningkat kalau mencermati data tersebut.

Sayang sekali kalau peluang langka ini gagal diambil momentumnya. Meminjam kata-kata orang pemasaran, salah satu keberhasilan dalam membangun bisnis terletak pada kemampuan membaca perilaku kemauan konsumennya. Siap berbisnis dengan Perusahaan Jepang……..?????

Credit Photo: www.japanvisitor.com

Posted in Business Strategy | Leave a Comment »

Memahat Masa Depan ala Toyota

Posted by Donny Oktavian Syah on 03/01/2014

“The Best way to predict the future is to invent it” (Alan Kay)

toyota-kijang-78Salah satu kelihaian Toyota sebagai salah satu pemain otomotif kelas dunia disamping kehandalan menerapankan efisiensi ala Toyota yang dapat dibaca dibukunya Jeffry Liker di buku Toyota Way, menurut saya adalah kelihaian “membaca” apa yang konsumen inginkan dan harapkan. Contoh keberhasilan Toyota Kijang di Indonesia kalau merujuk sejarahnya, sempat “ditertawakan” dan diolok-olok seperti mobil “kotak sabun”, karena modelnya kala itu “tidak trendy” sama sekali ketimbang mobil-mobil lain khususnya mobil-mobil buatan Eropa dan Amerika kala itu. Tetapi sejarah mencatat mobil Toyota Kijang dan turunannya (Innova, Avanza, dll) adalah mobil dengan tingkat lakunya paling tinggi, bahkan dengan guyonan ada beberapa menyebutnya “mobil rakyat”, karena rata-rata orang mempunyai mobil tipe ini.

Beberapa minggu lalu saya mendapat kesempatan langka untuk mendengarkan salah satu pelaku penting di Toyota yang mengurusi masalah Perencanaan Toyota yang mengadakan seminar di Fakultas Ekonomi, Nagoya University. Salah poin penting yang bisa ditangkap dari obrolan sore itu adalah di perlunya seorang designer (dalam hal ini car designer) untuk tidak semata-mata mendesain sebuah mobil yang “bagus” semata, akan tetapi juga membikin mobil yang dengan sentuhan “sense of culture”.

Artinya dalam mendesain mobil, tidak sekedar aspek-aspek teknis yang membuat mobil lebih praktis, lebih murah tetapi lebih daripada adalah kemampuan untuk mengedus “budaya” orang yang membeli mobil tersebut. Bukan pekerjaan yang mudah memang membikin mobil yang kira-kira “pas” dengan “budaya” orang yang diprediksi akan memakainya. Oleh pentingnya posisi ini, Divisi Perencanaan dan Pengembangan Desain di Toyota tidak di bawah Divisi Teknik maupun di bawah Divisi Marketing dan Penjualan, tetapi langsung di bawah jajaran Dewan Direktur.

Kelihaian untuk mengikuti “sense of culture” orang yang berbeda dan selalu berubah merupakan tantangan terberat yang harus bisa diatasi, oleh karenanya tuntutan akan peka terhadap perubahan ini adalah hal utama. Ada beberapa tips menarik agar dalam mendesain mobil itu ketika dilempar ke pasar akan diminati pembeli:

Pertama, selalu peka, mendengar semua keinginan para konsumen untuk diobservasi satu persatu untuk kemudian diambil intisarinya yang kemudian diterjemahankan dalam sebuah konsep. Terkadang problem dalam mendesain mobil (barangkali juga produk lain) adalah mendesain mobil dengan “kacamata” dan “pola budaya” serta minat para designer, bukan keinginan konsumen itu sendiri. Ini yang perlu dijaga, kadang ego untuk membikin desain seperti yang membikin produk yang kelihatannya hebat dan canggih, tapi akan “keok” di pasar. Misalnya untuk kategori mobil jenis sport, keinginan terbesar para konsumen akan stabilitas ketika dalam kecepatan tinggi (stability in high speed) serta kenyamanan serta keamanan (comfortable and safety) menjadi hal utama, maka tidak perlu pusing-pusing memikirkan efisiensi bahan bakar untuk desain mobil ini, karena para pembelinya tidak pernah aware akan hal ini. Jadi adalah hal penting mendesain sebuah mobil berdasarkan customer prespective, karena merekalah pengguna serta pembelinya, bukan designernya.

Kedua, perlu disadari bahwa bisnis otomotif sekarang tidak sekedar perlombaan untuk mempertontonkan kecanggihan serta kehebatan mobil semata tetapi berkaitan dengan budaya dan gaya hidup, istilah Toyota-nya adalah Jidosha Bunka (自動車文化). Seperti orang yang menyesaki dan memadati perlombaan Formula F-1 di sirkuit-sirkuit ternama dunia apakah itu sekedar mempelototi mobil-mobil bagus semata? Tentu saja tidak, itu sudah menjadi sebuah budaya, yang disebut sebagai di atas tadi. Oleh karenanya mengajak seluruh komponen yang ada di industry mobil untuk mengerahkan daya upayanya untuk cermat membaca budaya ini. Artinya mengajak seluruh komponen yang ada dalam “budaya mobil” untuk ikut menyemai dari level konsep. Jadi mengikutsertakan pelanggan sampai supplier untuk memahami hal ini penting. Maka jangan heran kalau sekarang ada banyak gathering yang mengundang para pengguna mobil yang menjajal mobil sambil diajak bersantap makan hanya untuk diminta komentarnya dan insight-nya tentang konsep mobil yang dimaui, atau mengundang para wartawan langsung ke pabrik mobil untuk melihat sendiri sekilas proses pembuatan mobil merupakan sebuah lanskap dari Jidosha bunka tadi.

Saat ini memang bukan lagi jamannya Toyota Kijang Kotak Sabun di era 80 dimana Toyota mampu mengalahkan para pesaingnya yang dengan cerdik memahami bahwa konsumen Indonesia yang masih kuat ikatan “extended family” lebih membutuhkan mobil yang bisa mengangkut banyak orang sehingga walaupun bentuknya “lempeng-lempeng” saja, mampu memikat pembelinya kala itu. Tetapi itu dulu, akankah Toyota berhasil memenangkan peperangan bisnis mobil di era Jidosha Bunka ini ? Akankan Toyota juga berhasil di level mobil mewah sekelas BMW dan Mercy ? Mari kita lihat bersama-sama……

Posted in Asian Business Ways | Leave a Comment »